Wednesday, August 11, 2010

Segumpal tanah akhir zaman

Segumpal tanah akhir zaman



aku cuma dari segumpal tanah

dan pancaran titisan hina dina

namun bongkak melangit

menginjak memijak asal ku

tanpa peduli apa sekali




ah persetan apa kata orang

ah periblis apa kata orang

mereka juga asal seperti ku

mereka juga topengan setan iblis seperti aku




Maha Pencipta sudah wahyukan

aku dan kita khalifah bumi ini

ayuh kita perlaku sewenang wenang

apa peduli orang lain

ini pemberian Maha Pencipta pada aku kita

bukan pada sang Nur yang akur

bukan pada sang Api yang membantah




Sang Api begitu cinta aku kita

Sang Api begitu kasih begitu sayang

Sang Api bisikan nya berapi hawa

Sang Api hembusnya syahwat

Sang Api rengeknya alpa

Sang Api ilhamnya nikmat




Naskah itu sudah lama aku pinggirkan

sudah lusuh balut bungkus

tiada gentar lagi mendengar amarannya

namun terhibur dengan alunan dari isi nya




Kata Sang Api pada aku kita

Naskah itu kuno tiada maju nya

naskah itu belit bebas mu

naskah itu hanya ugut aku kita

dan kita percaya pada Sang Api




Dan aku lhat sekeliling ku

turunan gumpal tanah titis hina dina

makin berbapakan Sang Api

berlakikan sang Api

berbinikan sang Api

bertuhankan Sang Api




Mari ikut wahyu Sang Api

mari bontoti fatwa sang Api

ayuh kalian zinalah

ayuh kalian adu nasiblah

ayuh tonggoklah air kencing sang api

ayuh buang anak pada sang anjing

ayuh makan daging saudara kamu

ayuh rasuah semahu kamu

ayuh makan harta si yatim yang bingung

ayuh maki hamun ibu ayah kamu

ayuh rampok saja harta rakyat




Mari ingat pesan Sang Api

apa guna kamu solat

apa untung kamu berpuasa

ngapa membazir utk ke Makkah

beratkan diri dari sedekah


Hei aku kamu

kan di Naskah lusuh sudah berjanji

pintu taubat masih terbuka

Maha Pencipta tak pernah mungkir

Pembawa Khabar tak pernah berbohong




Ayuh kita ikut Sang Api

kita taubat saja kemudian

dan sang Api menggosok belakang aku kita

kata nya ya aku kamu akan sempat bertaubat

itu aku janji kata sang Api

sambil menoleh tersenyum dan mengenyit sebelah mata nya.


tokasid

duriantunggal

10ogos2010

@5.00pm

4 comments:

Bergen said...

Dan manusia lupa asal usul - dari tanah yang hitam (sol sol - dalam surah mana saya dah lupa)

But yet manusia bila sombong, sampai lupa asal usul dia dan kemana dia akan berakhir.

Semoga kita jangan lari dari perasaan tawaddu' dan rendah diri. Yang paling kita takut ialah kekayaan - bila miskin senang rasa rendah diri, tapi bila kaya - berapa ramai manusia yang tewas dengan dugaan kekayaan, kesihatan, kecantikan dan kecerdekan.

You wrote a timely piece for me in this Ramadan afternoon, Doc. Thanks.

Kata Tak Nak said...

Cantik doc, sungguh cantik.

Indah Hairani said...

Salam,
tahniah puisi2nya bagus sekali..

jemohid said...

indahnya puisi...